Aqiqah Anak Tanggung Jawab Siapa? Orang Tua? Nenek Kakek?

Aqiqah anak tanggung jawab siapa? Bolehkah nenek mengaqiqahi cucunya? Bolehkah suami mengaqiqahi istri? Pertanyaan seperti itu lazim muncul saat seorang muslim sadar tentang salah satu syariat Islam, yakni aqiqah. Dalam artikel ini kami coba bahas secara ringkas untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pelaksanaan aqiqah ini hukumnya sunnah muakkad (mayoritas ulama). Banyak hadits yang menyebutkan tentang makna dan pelaksanaan dari aqiqah ini. hadits-hadits tersebut bisa menjadi dasar bagi para orang tua yang ingin melaksanakan aqiqah. Jika anda ingin melaksanakan acara aqiqah secara praktis dan ekonomis, kami merekomendasikan layanan jasa aqiqah dari Pelangi Aqiqah. Harga murah dan kualitas menu masakan terbaik.

Secara umum makna aqiqah adalah memotong. Dalam hal ini berkaitan dengan memotong hewan qurban serta mencukur rambut si bayi yang akan diaqiqahkan. Aqiqah ini harus dilaksanakan sesuai dengan tuntunan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Banyak hadits yang ada inilah tentu bisa menjadi dasar bagi para orang tua yang ingin melakukan aqiqah sesuai dengan aturannya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa Islam memberikan segala kemudahan bagi umatnya yang ingin menjalankan ibadahnya, sama halnya dengan pelaksanaan aqiqah.

Aqiqah Anak Tanggung Jawab Siapa? Orang Tua? Nenek Kakek?

Hukum Anak Mengaqiqahkan Orang Tua

Banyak hadist yang menyebutkan bahwa pelaksanaan aqiqah adalah menjadi tanggung jawab orangtua. Bukan sebaliknya, anak mengakikahkan orangtua. Namun demikian, orang tua tidak perlu terbebani (merasa wajib) untuk melaksanakan ibadah sunnah, aqiqah. Jadi, tidak ada dosa bagi orang yang tidak melaksanakan aqiqah. Kebaikan inilah yang menjadikan segala yang ada di dalam agama Islam tentu menjadi sebuah kebenaran bagi para umatnya. Aqiqah yang merupakan wujud syukur umat Allah dari segala karunia yang diberikan tentu akan semakin khusyuk jika dilaksanakan secara ihklas dan tidak diperuntukkan sebagai hal-hal yang menunjukkan keriya’an.

Bila si orangtua memiliki kemampuan, tentu lebih utama untuk melaksanakan aqiqah yang sesuai aturannya, yakni ketika pada hari ke-7 kelahiran bayi.  Sesuai dengan hadits pula, bahwa aqiqah ini menjadi tanggungan bagi orang tua yang memberikan nafkah bagi keluarganya. Maka dari itu, pelaksanaan aqiqah ini tentu menjadi kewajiban dan tanggung jawab bagi pencari nafkah di keluarga tersebut.

Bila orang tua belum memiliki kemampuan untuk melangsungkan aqiqah bagi putra-putrinya, maka ketentuan dan aturan aqiqah yang dilakukan adalah tidak perlu memaksakan diri. Bila penanggung jawab nafkah ini belum memiliki kemampuan, maka pelaksanaannya bisa ditangguhkan. Selain itu, jika sampai anaknya menginjak dewasa dan yang memiliki kemampuan adalah anaknya, maka si anak tersebut bisa melaksanakan aqiqah untuk diri sendiri (menurut ijtihad ulama, tidak ada hadist yang menjadi dasarnya).

Bolehkah Nenek Mengaqiqahi Cucunya

Jika kakek atau nenek memiliki kemampuan tentu boleh membantu melaksanakan aqiqah untuk cucunya. Jadi jawaban atas pertanyaan bolehkah nenek mengaqiqahi cucunya adalah boleh. Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah Muhammad ketika mengaqiqahi cucunya Hasan dan Husain (Hadist SHahih).

Aqiqah Istri Oleh Suami

Mungkin saat ini anda sudah menikah tapi belum aqiqah ketika berbicara dengan pasangan anda. Oleh karenanya anda bertanya bolehkah suami mengaqiqahi istri. Mengenai hal ini, tidak ada hadist yang menjadi dasar pelaksanaan aqiqah. Oleh karena itu, dikembalikan ke hukum aqiqah, yakni sunnah muakad sehingga tidak berdosa jika tidak mampu melaksanakannya. Menghindari bid’ah dalam beribadah adalah lebih utama.

Hukum Akikah Dengan Uang Pinjaman

Seringkali msyarakat Muslim di Indonesia ini melaksanakan sesuatu syariat tanpa melihat prioritas, termasuk dalam aqiqah. Padahal telah disepakati oleh mayoritas ulama bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakaddah. Coba saja perhatikan, untuk melaksanakan ibadah sunnah tersebut, seseorang terkadang melaksanakannya dengan uang pinjaman dengan kata lain hutang. Padahal mengembalikan pinjaman atau membayar hutang adalah wajib. Bahkan membayar utang tersebut hingga akhirat. Jadi, perhatikan prioritas dalam melaksanakan suatu ibadah. Perhatikan derajat hukumnya.

Pada kenduri aqiqah, seringkali tamu memberikan sumbangan. Mungkin anda bertanya pasal hukum menerima sumbangan saat aqiqah. Menerima pemberian adalah boleh dan sah-sah saja dan tidak ada ketentuan wajib mengembalikan pemberian sumbangan aqiqah tersebut. Mengembalikan sumbangan hanya atas dasar etika dan kepantasan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Dengan demikian, para orang tua dimana yang memiliki kemampuan untuk melaksanakannya tentu harus segera dilaksanakan. Pastinya pelaksanaannya harus disesuaikan dengan aturan aqiqah yang berlaku dan berdasarkan syarian Islam. Pastinya dengan melaksanakannnya sesuai dengan syariat Islam akan menjauhkan dari segala perbuatan musyrik ataupun syirik.

 

Semoga bermanfaat.

Beragam Berita Terbaru © 2018 Frontier Theme